” Kami Tak Kuat Hati Merawat Teman Sendiri,”

Melihat orang yang kita kenal baik, terbaring tak berdaya merupakan hal yang sangat tidak diinginkan. Butuh hati yang kuat untuk melewati itu. Setidaknya ini yang diceritakan oleh Nurdiansyah (30) seorang perawat di RSPI Soelianti Saroso. Salah satu rumah sakit rujukan Covid19.

Sabtu sore itu, kami mendengar cerita dari Nurdiansyah yang sempat bertugas merawat rekan kerjanya yang dinyatakan positif Covid19. “Merawat teman sendiri, kita tidak tega. Masuk ke dalam ruangan tempat (teman kerja) di rawat kita harus tabah. Tapi begitu keluar, bisa nangis,” katanya sambil mengingat momen itu. Nurdiansyah menjadi salah satu perawat yang merawat rekan seprofesinya dari tempat ia bekerja.

Ialah Heri Soesilo, seorang perawat RSPI yang dinyatakan positif covid19 sebelum meninggal dunia. Dari cerita Nurdiansyah, Heri merupakan sosok perawat yang baik. “Jadi waktu itu saya jaga malam. Kemudian saya chat almarhum melalui nomor pribadi untuk mengkonfirmasi pergantian shift, sekaligus memastikan almarhum membutuhkan sesuatu atau tidak. Tapi almarhum malah nyuruh kami yang jaga untuk istirahat saja. Karena ia merasa kondisinya aman, dan agar teman-teman yang jaga tidak terlalu lelah,” bebernya menjelaskan kebaikan sosok Heri.

Namun sayang, malang tak bisa ditolak, kondisi almarhum memburuk dan harus mendapat tindakan intubasi. Saat itu, rekan-rekannya hanya bisa memberi semangat kepada almarhum. “Sempat diintubasi, kemudian dirujuk ke RS lain karena ada tindakan untuk membersihkan ginjal. Pokoknya selama kurang lebih 20 hari kita harap-harap cemas,” kenangnya.

Sosok Heri pun dikenal sebagai sosok karyawan yang baik. Hal ini diungkapkan oleh Direktur RSPI Soelianti Saroso, Muhammad Syahril, dalam konferensi persnya. “Kami kehilangan seorang perawat terbaik kami bernama Heri Susilo. Beliau perawat yang disiplin, komitmen, dan berintegritas. Perjuangannya akan kami lanjutkan,” katanya.

Selain kabar meninggalnya Heri Susilo. Kabar serupa juga datang dari RSPI Soelianti Saroso. Seorang perawat RS Sukmul Sisma Medika, Nani Suhartini, menghmbuskan nafas terakhirnya di RSPI pada senin (4/5) siang tadi. “Kami turut berduka cita atas meninggalnya dua perawat dalam waktu yang berdekatan di RSPI,” ungkap ketua DPD PPNI Jakarta Utara, Maryanto.

Sebelumnya, diberitakan agar para perawat bisa melaporkan kondisi di lapangan kepada satgas covid19 DPP PPNI. Hal ini untuk mempermudah advokasi perawat yang bekerja sekaligus pengurusan administrasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. “Tidak perlu takut, bisa melalui website kami. Kami jamin keamanannya,” ujar Ketua Satgas Covid 19 DPP PPNI Jajat Sudrajat.

Hingga saat ini, terdata 19 orang perawat gugur saat menjalankan tugas dalam masa pandemi Covid19. Berikut nama-nama perawat yang telah gugur selama masa pandemi :
1. Ninuk Dwi yang bertugas sebagai perawat di ruang ICU Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta
2. Sugiarto yang bertugas sebagai perawat tim bedah medis Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta
3. Letkol (Kowal) Mulatsih, perawat Rumah Sakit Marinir Cilandak
4. Setia Wibowo, perawat di Rumah Sakit Premier Bintaro
5. Mursyida perawat di PK Kp Teleng.
6. Zainal Khabib, perawat RSUD dr Koesma Tuban
7. Adharul Anam, perawat RS Mitra Keluarga Kelapa Gading
8. Nuria Kurniasih, perawat RSUP dr Kariadi
9. Nur Putri Julianty, perawat RS Andhika.
10. Elok Widyaningsih, RS Eka Hospital BSD.
11. Novera, perawat RSPAD Gatot Soebroto
12. Nurlela, perawat RS Abdi Waluyo Jakarta
13. Hastuti Yulistiorini, perawat RS Siloam Surabaya
14. Ns. Rina Iswati, perawat RSUD dr. Kariadi Semarang
15. Agus Indarto, perawat RS dr Oen Solo Baru.
16. Shelly Zienda Putri, perawat Ambulans Gawat Darurat DKI Jakarta
17. Reno Tri Palupi, perawat RSUD Pasar Rebo
18. Heri Susilo, perawat RSPI Soelianti Saroso
19. Nani Suhrtini, perawat RS Sukmul Sisma Medika
(mam)