Menjadi petugas kesehatan di masa pandemi memang bukan pilihan yang menyenangkan. Apalagi jika itu terjadi di sebuah negara dengan sistem kesehatan yang tidak cukup mumpuni, Indonesia contohnya. Anekdotnya begini, mereka yang mumpuni pun kewalahan, gimana kita?

Tapi semua tenaga medis pasti sepakat, mereka tidak bisa menghindar dari keadaan ini. Salah satu alasannya adalah nilai yang mereka pelajari serta sumpah yang sudah terucap. Akhirnya, banyak tenaga medis dilematis, sebagai manusia biasa mereka memiliki kekhawatiran dan kecemasan seperti lazimnya manusia. Tapi di sisi lain, takdir telah menempatkan mereka di sana.

Bekerja sebagai tim medis di Indonesia yang notabene sistem kesehatannya masih mengejar negara maju, di masa pandemi, dan terikat sumpah profesi, menjadi sekelumit kepelikan tersendiri bagi tenaga medis. Ketika isu Covid-19 belum masuk ke Indonesia, negara kita tampak yakin dengan kebalnya Indonesia terhadap virus jenis baru ini. Bahkan Mentri Kesehatan tampak siap menghadapi pandemi seandainya masuk ke dalam negara kita.

Tapi semua itu terbantahkan ketika 2 Maret lalu, Presiden didampingi Menteri Kesehatan mengumumkan kasus pertama Corona di Indonesia. Teman-teman medis di lapangan kelabakan bukan kepalang. Bukan hanya soal tempat isolasi yang belum mencukupi, tapi juga soal pelindung diri yang mulai raib di pasaran. Kalaupun ada, harganya gila-gilaan.

Bahkan beberapa rumah sakit besar milik pemerintah perlu membuka donasi untuk pembelian APD. Hal ini tampak seperti biasa saja, jika kita hanya melihat hal itu sebagai sebuah donasi di tengah bencana. Tapi jika kita tahu faktanya, ini adalah sebuah pertanda bahwa negara kita memang tidak siap.

Kembali soal tenaga medis, mereka kemudian dinarasikan sebagai pasukan pertama yang vis a vis dengan musuh bernama corona virus yang ukurannya milimikron. Alih-alih dipersenjatai sebagai pasukan, mereka harus kreatif mencari senjata mereka sendiri. ironi!

Alhasil banyak yang berperang dengan senjata seadanya. Setidaknya, lebih dari 30 pasukan medis terdata meninggal baik sebagai pasien positif corona, ataupun PDP. Tapi ironi tenaga medis tidak sampai di sana saja. Usai masalah APD ‘teratasi’, masalah muncul dari masyarakat yang mereka lindungi.

Gugurnya pasukan merupakan sebuah kabar pilu. Tapi lebih memilukan lagi ketika lingkungan tempat tinggal mereka mulai menolak kehadiran mereka. Dengan alasan, takut menularkan ke lingkungan sekitar. Cerita pengusiran perawat dari rumah kos atau kontrakannya, mencuat setelah cerita kekurangan APD untuk para tenaga medis.

Saya dengar dari kawan di lapangan, ada yang harus terpaksa menginap di rumah sakit. Bukan sebuah kemauan, tapi memang sebuah keterpaksaan lingkungan. Tak butuh waktu lama, beberapa pemerintah daerah cukup sigap untuk menyediakan hotel sebagai tempat pulang para pasukan medis. Entah ada hubungannya atau tidak dengan kabar pengusiran para pasukan medis itu.

Itu sebuah solusi, bagi keselamatan rakyat. Tapi tidak sepenuhnya bagi psikologis pasukan medis. Bagaimana pun juga, pasukan medis adalah makhluk sosial yang memiliki keluarga. Selama masa pandemi, setidaknya selama masa karantina mereka, mereka harus rela tidak bertemu pasangan dan anaknya di rumah. Padahal kita tahu, bagi banyak orang, anak dan pasangan adalah penawar lelah setelah bekerja.

Cerita tidak sampai di sana. Bukti nyata negara kita belum benar-benar siap menghadapi pandemi, datang dari kisah penolakan warga atas jenazah seorang perawat yang gugur karena melaksanakan tugas selama masa pandemi. Kasus ini berbuntut dengan penjeratan KUHP pada pelaku provokator. Terlepas tindakan aparat yang dinilai sudah tegas, ini adalah kisah buruk di tengah masa yang tidak baik.

Ada satu rantai buruk yang tidak terputus dalam tatanan masyarakat kita. Di negara yang baru saja dinyatakan sebagai negara maju, dan pejabatnya bangga atas predikat itu. Masa ini sepertinya masih panjang, tapi kita berharap cerita-cerita pilu di atas, tak perlu diperpanjang dan tak perlu terus terulang. Negara kita sudah cukup menderita, tidak usah ditambah menderita dengan kebiasaan buruk kita. Salam hangat kami untuk semua yang memberikan dedikasi di masa pandemi!

Imam Maula Fikri
Pemred dailyners.com