Ribuan pelayat mengantar Razan dalam prosesi pemakaman kemarin. Foto:ist

“Kami punya satu tujuan, untuk menyelamatkan kehidupan dan mengevakuasi orang-orang. Serta mengirim pesan pada Dunia, tanpa senjata, kita dapat melakukan apa pun,” ucap Razan Ashraf Al Najjar, perawat yang menjadi relawan di perbatasan Gaza, dalam laman daring The New York Times.

Ucapan itu ia keluarkan ketika ditemui oleh reporter The York Times di camp demonstran yang berada di Khan Younis bulan lalu. Dalam laman itu, mendiang Razan mengaku bahwa ayahnya sangat bangga atas apa yang ia lakukan.

Masih dalam laman tersebut, dijelaskan Razan Al Najjar merupakan anak tertua dari enam bersaudara. Ia tinggal di Khuzaa, sebuah desa dekat perbatasan Israel, tepatnya di timur Khan Younis di selatan perbatasan Gaza. Ayahnya, Ashraf Al Najjar, adalah seorang wirausaha yang membuka toko onderdil motor. Namun sejak 2014, Ayahnya berhenti berjualan karena tokonya hancur setelah ada serangan udara dari militer Israel.

Razan pun tidak dapat melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan tinggi. Disebutkan dalam artikel berjudul “A Women Dedicated to Saving Lives Loses Hers ini Gaza Violence” itu, Razan tidak memiliki nilai yang cukup baik untuk melanjutkan studinya. Untuk itu dia mengikuti pelatihan paramedis di Nasser Hospital yang terletak di Khan Younis.

Dia mengikuti pelatihan selama dua tahun di rumah sakit tersebut. Selain itu ia juga menjadi relawan paramedis dari Palestinian Medical Relief Society, sebuah organisasi kesehatan non pemerintahan. Jumat (1/6) lalu tak disangka menjadi akhir pengabdiannya. Ayahnya, Ashraf Najjar (44), pun tak pernah menyangka sahurnya di hari itu menjadi sahur terakhir bersama sang anak.

Razan Ashraf Al Najjar.foto:ist

Razan meregang nyawa di tangan sniper Israel saat membantu demonstran di Jalur Gaza. Ia tersungkur ke tanah usai peluru sniper Israel menembus dadanya, di tengah upayanya menahan efek gas air mata yang ditembakkan tentara Israel. Sempat di bawa ke rumah sakit, namun sayang nyawanya tak tertolong.

Razan merupakan seorang relawan medis pertama di kamp Khan Younis. Dia sangat meyakini bahwa wanita dapat melakukan pekerjaan itu.

“Masyarakat harus menerima kita. Jika mereka tidak mau menerima kita karena pilihan, mereka akan dipaksa menerima kita karena kita memiliki kekuatan yang lebih dari siapapun. Kekuatan yang saya tunjukan pada hari pertama protes, saya tantang anda untuk menemukannya pada orang lain,” begitu ucap Razan pada The New York Times.

Kini jenazahnya telah diantarkan ribuan warga Palestina menuju tempat peristirahatan terakhir pada Sabtu (2/6) kemarin. Tubuhnya ditutupi oleh bendera Palestina dan ditandu oleh para pelayat sepanjang jalan. “Dengan jiwa dan darah kami, kami melepaskanmu, martir Razan,” pekik salah satu pelayat.(red)