Razan Ashraf Al Najjar.foto:ist

Sejak beberapa pekan lalu konflik di jalur Gaza kembali memanas. Rakyat Palestina terus melakukan protes yang dibalas dengan gempuran gas air mata bahkan peluru tajam oleh pasukan Israel. Terakhir, kabar mengejutkan datang dari wilayah konflik tersebut. Seorang perawat yang menjadi relawan wilayah konflik, meregang nyawa oleh peluru tajam sniper Israel, Razan Ashraf Najjar nama perawat tersebut.

Seorang wanita muda berusia 21 tahun yang memiliki keberanian luar biasa. Di balik parasnya yang cantik, dia berani membantu warga Palestina yang terluka saat melakukan protes terhadap Israel. Kejadian tersebut terjadi pada hari Jumat (1/5) lalu.

Razan yang mengenakan baju putih-putih sebagaimana layaknya relawan medis dan paramedis di wilayah konflik telah mengangkat tangan bersama beberapa relawan lain. Namun tentara Israel tetap memuntahkan peluru tajam dari moncong senjatanya. Amunisi itu pun menembus dada dari Razan. Begitu yang saya baca dari laman daring af.reuters.com.

Ia pun meregang nyawa saat diberikan pertolongan oleh rekan-rekannya. Gadis muda yang sejatinya hendak memberikan pertolongan pertama pada lansia yang berada di tengah demonstran di selatan Jalur Gaza. Namun, keberingasan tentara Israel membawa cerita lain.

Cerita soal keberingasan mereka, tentara Israel, mungkin bukanlah cerita baru. Sekalipun dalam kasus ini, Razan Al Najjar dan kawan-kawan paramedisnya haruslah dilindungi ketika berada di daerah konflik. Hal ini sesuai dengan apa yang tertulis dalam Konvensi Jenewa tanggal 12 Agustus 1949 Bab IV tentang Anggota Dinas Kesehatan.

Namun ini ‘lagi-lagi’ tidak berlaku bagi negara berbendera Bintang David itu. Hingga tulisan ini dibuat pun, belum ada berita berisi pernyataan resmi, baik itu pengecaman atau keprihatinan, dari dunia internasional. Entah itu negara yang mendukung hukum-hukum internasional, ataupun dari PBB selaku wadah perserikatan bangsa-bangsa di dunia.

Kita patut menunggu reaksi apa yang akan diberikan dunia setelah ini. Jika semacam kecaman saja tidak ada, bukan tidak mungkin akan muncul Razan-Razan lainnya. Relawan kemanusiaan wilayah konflik yang seharusnya memanusiakan manusia, namun tewas oleh hasrat manusia lainnya.