Ilustrasi.foto:ist

Beberapa hari dalam sepekan terakhir ini, Indonesia dirundung kesedihan. Aksi teror terjadi di beberapa tempat. Setelah beberapa polisi gugur di Rutan Cabang Salemba di Mako Brimob, Kelapa Dua, Kota Depok, hari Minggu kemarin tiga bom mengguncang Kota Pahlawan, Surabaya. Kemudian disusul satu ledakan lagi di Mapolrestabes Surabaya pagi tadi.

Semua elemen bangsa bereaksi dengan memberikan kecaman dan kutukan atas rentetan kejadian ini. Tak terkecuali, para perawat Indonesia pun sepatutnya mengutuk keras aksi di Surabaya ini. Pasalnya, tim DailyNers.com mendapatkan pesan Broadcast melalui aplikasi WhatsApp, soal adanya seorang perawat yang mengalami luka bakar akibat salah satu ledakan di Surabaya pada Minggu (13/5) lalu.

Hal ini pun terkonfirmasi melalui salah satu grup WhatsApp profesi perawat di Kota Pahlawan tersebut. Namun sayang tidak ada yang menjawab konfirmasi kami secara langsung ketika kami hendak mengkonfirmasi berita tersebut. Berita beredar hanya menyebutkan, Siti Mukarimah, seorang perawat RS WB. Saat kejadian, lokasi korban dekat dengan lokasi kejadian di GKI.

Saat itu korban hendak pulang menuju rumah kosnya setelah melaksanakan dinas malam. Kondisi korban saat ini kritis dengan luka bakar serius, bahkan korban terpasang ventilator. Parahnya luka korban juga terkonfirmasi lewat gambar yang kami terima saat korban dalam penanganan pihak medis. Tentunya hal ini tidak bisa kami ekspos, sebagai bagian dari kode etik kerja jurnalistik.

Tak hanya itu, korban yang kini memiliki dua anak kecil, pun sedang mengandung tiga bulan ketika mengalami kejadian naas tersebut. Inilah bentuk kebiadaban dari aksi teror dengan motif apa pun, di manapun, dan oleh siapapun. Karena ternyata korban dari aksi-aksi biadab ini adalah mereka yang tidak berdosa, bahkan mungkin tidak tahu-menahu soal apa yang ada dibalik aksi teror ini.

Seorang pekerja kemanusian justru jadi korban tak berdosa dari aksi ketidak manusiaan. Tak hanya sampai disitu saja keterkejutan tim kami. Dari grup WhatsApp yang berbeda, kami mendapat informasi bahwa pelaku bom bunuh diri di salah satu gereja merupakan lulusan salah satu Akademi Keperawatan di Kota Pahlawan, Surabaya.

Tanpa bermaksud mengorek informasi latar belakang pelaku, yang menjadi tanda tanya besar tim kami adalah bagaimana mungkin seorang yang belajar kemanusiaan nekat menghabisi nyawa banyak orang. Bagaimana mungkin seorang yang belajar bagaimana merawat manusia sakit tanpa memandang suku, agama, dan ras, dengan prinsip etika egaliternya, nekat meledakan diri dan membuat orang lain terluka hingga meninggal dunia.

Sekali lagi ini adalah kemirisan dari aksi teror dimana pun dan oleh siapa pun. Tanpa melihat latar belakang apa pun, maka aksi teror sudah pastilah brutal dan terkutuk. Jangan berikan sedikit pun ruang pada aksi-aksi semacam ini. Semua elemen bangsa mempunyai peran dan tanggung jawab atas terciptanya keamanan Negara. Sementara kami, tim DailyNers.com, mengutuk dengan tegas apa yang dialami oleh saudara-saudara kami di Surabaya. #LawanTerorisme